Selamat Datang Di Blogku, Silahkan Like Dan Jangan Lupa Tinggalkan Komentar yahhh???,,, dan Makasih Atas Kunjungannya

Kamis, 05 Juli 2012

My Story



KISAH CINTA THE MIFKAR
Pendahuluan
            Di sebuah Institusi Pendidikan, tersebutlah Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah Kota Bima, ada salah seorang siswa yang berpenampilan sederhana dan berasal dari sebuah desa yang bernama Desa Kalampa. Dia adalah seorang Siswa yang tidak pernah minder dengan keadaannya. Meskipun dia berbeda dari temannya. Demi cita-citanya , ia terus bertekad dan berusaha menjadi yang terbaik dari semua yang terbaik, sehingga dia mempunyai motto, yaitu : “To be Excellent, I Must Can”. Itulah motto yang ia pegang selama ia sekolah di SMA nya itu. Sampai-sampai mottonya itu ia tulis di pintu lemari kecilnya yang ada di kamarnya di Ponpes Al-Ikhlas Muhammadiyah Tolobali-Kota Bima (orang Bima bilang : peti). Siapakah dia??? Yaaa… zulfikar namanya. Memang,,, nama yang agak kuno kalo dibandingkan nama-nama anak muda zaman sekarang,,, Tpi… nama bukanlah cerminan dari pribadi seseorang,,, sperti kata orang bijak :”jangan melihat buku dari sampulnya saja, tetapi lihatlah dari isinya”. Hmmm bagaimana sih sosok seorang Zulfikar itu??? Ikuti aja cerita pendek “Kisah Cinta The MifKar” ini.

Good Luck…



1.  Pertama Mengenal Muhammadiyah.

            Seperti tahun-tahun sebelumnya, setelah menamatkan sekolah di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), semua Siswa tamatan SMP sedang bersiap-siap berangkat ke Sekolah Menengah Atas (SMA) favorit dan pilihannya, untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon Siswa SMA. Di antara mereka, ada yang diantar oleh orang tua mereka, ada juga yang berangkat sendiri. Tidak ketinggalan aku yang baru saja menamatkan studyku di SMP Negeri 2 Woha. Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Tapi, meskipun dengan kondisi ekonomi keluarga yang seperti itu, aku tidak pernah menyerah dan mundur untuk meraih cita-citanya. Siapakah aku??? Namaku adalah Zulfikar,kalian boleh memanggilku Vikar. Aku adalah anak dari pasangan suami istri (pasutri) Bapak Nurdin dan Ibu Nursani. Aku bercita-cita dari kecil, aku ingin menjadi seseorang yang ahli dalam bidang Matematika, bila perlu aku ingin menjadi profesornya Matematika. Maklum, dari kecil aku suka sekali pada mata pelajaran yang satu ini.

            Berbeda dengan teman-temanku yang lain, yang bersekolah di SMA yang mereka inginkan. Aku tidaklah demikian, aku ibaratkan Motor yang di kendarai oleh Ayahku. Di Sekolah manapun Ayahku mendaftarkanku, aku menuruti saja apa yang dikehendaki Ayahku. Aku tahu apa yang dipilih oleh Ayahku, adalah yang terbaik untukku. Dan aku juga tidak berani menentang apa kata Ayahku.

            Di rumahku, aku bersiap-siap berangkat bersama Ayahku ke Sekolah, tempat aku akan didaftarkan oleh Ayahku. Sebelum berangkat, aku berpamitan dengan orang-orang sekampungku. Terutama My Mother (Ibuku). Terlihat air mata keluar dari pipi Ibuku, maklumlah Wanita. Bukan karena itu juga, tetapi karena aku akan pergi dalam waktu yang lama. Soalnya di sana aku akan tinggal di Ponpes yang ada di sekolah itu. Dan juga karena aku merupakan anak laki-laki satu-satunya yang mereka miliki.

Ibu                   : “ Nanti, kalo kamu sampai di sekolahmu. Kamu jangan nakal, patuhi apa yang dikatakan oleh gurumu di sana, jangan lupa sholat, dan jangan pernah ambil barang yang bukan milik kamu, anak yahh…!!??”(sambil mengelus-elus badan Zulfikar)
Vikar   : “ Iya, Bu. Insya Allah… Vikar akan selalu ingat nasehat Ibu. Ibu juga harus baik-baik di sini yah. Ibu gak boleh mikirin Vikar terus, nanti Ibu bias sakit. Ibu harus jaga kesehatan Ibu.”(sambil menangis memeluk sang Ibu)
Ibu      : “ Iya, Nak.”
Vikar   : “ Ya, udah… sekarang Ibu jangan nangis lagi. Vikar mau pergi dulu. Vikar pamit yah Bu…(sambil mencium tangan dan pipi Ibunya)
Ibu       : “ Iya,,, Hati-hati yah…(sambil melepas pelukannya)
Vikar   : “ Iya, Assalamualaikum, Bu…”(sambil melambaikan tangan ke arah Ibunya dan berjalan meninggalkan Ibunya)
Ibu       : “ Wa’alaikum salam Warahmatullah.” (sambil melambaikan tangan)

            Akhirnya aku pun pergi bersama Ayahku ke Kota. Ketika naik di atas motor, aku menengok ke belakang ke arah Ibuku. Aku melihat Ibuku masih menangis. Aku pun menengok ke depan kembali, karena aku tidak tahan melihat Ibuku menangis. Di atas motor, aku mencoba mengajak Ayahku berbicara. aku pun bertanya kepada Ayahku.
Vikar   : “Ayah,,, emangnya nanti Vikar akan sekolah di mana???”
Ayah   : “ Kamu akan ayah masukkan ke SMA Muhammadiyah.”
Vikar   : “ SMA Muhammadiyah??? Sekolah apa itu, apa sekolahnya sama seperti sekolah pada umumnya??”
Ayah   : “ Sama, Nak. Tapi sekolah itu sangat ketat dan akhlak serta pergaulannya bagus dibandingkan SMA-SMA pada umumnya, yang pergaulannya bebas dan tidak bermoral.” Makanya, ayah ingin memasukkan kamu di sana.”
Vikar : “ Ohh,,, Tapi Vikar takut kalo di sana Vikar gak akan dapat Teman yang baik, yang mau berteman dengan Vikar apa adanya. Tanpa memandang status ekonomi Vikar.”
Ayah   : “ Insya Allah, tidak Nak. Kamu anak baik, pasti banyak yang suka dan ingin berteman dengan kamu.”
Vikar   : “ Semoga saja ya, Ayah…” Ammiiinnnn.
Ayah   : “ Amin.” Sekarang, pegangan yang erat, Ayah akan ngebut.”
Vikar   : “ Hahahahaha, emang Ayah bias? Ayah kan sudah tua, mana berani ngebut.”
Ayah   : “ Lihat saja nanti”

Benar saja, ternyata Ayahku membuktikan ucapannya tadi. Ia tarik gasnya sampai full. Dan ketika aku lihat pengukur kecepatannya, ternyata kecepatan Motor yang di kendarai oleh Ayahku adalah 100 Km/jam. Wahh… bukan main Ayahku mengendarai motor. Bagaikan Valentino Rossi yang sedang ngebut, ingin melewati semua lawannya. Semua orang yang tadinya berada di depan kami, satu persatu kami lewati. Ternyata, meskipun sudah tua, Ayahku masih berjiwa muda juga rupanya, gumamku dalam hati. Aku salut dengan Ayahku, meskipun ia sudah tua, ia tetap bersemangat untuk tetap menjalani kehidupannya dan menyekolahkanku hingga sampai sekarang ini. Tapi, aku lebih kagum lagi dengan Ibuku. Meskipun ia adalah isteri kedua dari Ayahku, dan Ayah juga jarang menengok kami. Ibuku tetap sabar dan tabah mengurus kami sekeluarga. Dan bahkan ia mencari uang untuk membiayaiku sekolah. Terima kasih Ibu, terima kasih Ayah. Jasa-jasa kalian tidak akan pernah aku lupakan.

Karena lamanya perjalanan, aku pun  mataku pun ngantuk. Dan tanpa ku sadari kepalaku sudah menyandah di punggung Ayahku. Aku peluk tubuh Ayahku dengan erat. Dan ku rasakan angin membelai pipiku. Begitu nyaman ku rasakan.

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya tibalah kami di tempat yang kami tuju. Ketika kami masuk di gapura sekolah itu, aku dibangunkan oleh ayahku. Ayah        : “Vikar, bangun . kita sudah sampai,” (sambil menepuk-nepuk bahuku)
Vikar   : “ Oahhhh,,, kita di mana nih ayah??”
Ayah   : “ Kita sudah sampai di SMA Muhammadiyah, tuh lihat ada tulisan di gapuranya tuh.”(sambil menunjuk ke arah gapura yang dimaksud)

Akupun mendongak ke atas, ke arah gapura yang dimaksud oleh Ayahku tadi, kalau nggak salah tulisannya itu, “SELAMAT DATANG DI  MTs, SMA, dan MA Muhammadiyah Kota Bima, Jln. Wolter Monginsidi Tolobali-Bima NTB”. Begitulah kira-kira tulisan yang ada di gapura tersebut. Lalu kamipun masuk lebih dalam lagi. Hingga sampailah kami tepat di depan sekolah tersebut. Di sana terlihat ada seseorang pegawai  TU yang duduk di depan ruangan kelas, dulu kelas itu di tempati oleh anak SMK Kesehatan untuk belajar, soalnya SMK Kesehatan blum mempunyai bangunan sekolahnya sendiri. Nama pegawai itu adalah Azhar Yusuf. Ketika aku melihatnya, di dalam hatiku aku berkata, “ Ya Allah,,, ganteng sekali orang ini, dan kelihatannya baik. Semoga saja aku bisa menjadi adiknya di sini.” Gumamku dalam hati. Abang Azhar adalah salah satu pegawai TU yang ditugaskan oleh Kepala sekolah untuk menjadi penerima siswa baru yang dating mendaftar di sekolah itu. Abang Azhar terkenal sebagai orang yang ramah, lucu, meskipun postur tubuhnya tidak tinggi, aku sangat senang kepadanya.
Vikar & Ayah : “ Assalamu’alaikum…”(hampir bersamaan)
Azhar              : “ Wa’alaikum salam, silahkan duduk pak..,(smbil mempersilahkan kami duduk)
Ayah               : “ Terima kasih. Ayo Vikar duduk.”

Kamipun duduk di bangku yang sudah disiapkan oleh panitia penerimaan siswa baru. Ayah pun berbincang-bincang dengan Abang Azhar. Mereka membicarakan tntang biaya sekolah dan asrama yang nantinya akan saya tinggali. Setelah semua masalah pembayaran selesai, tiba-tiba datanglah seorang pegawai TU yang juga sebagai Pembina di Pondok itu. Namanya Sunardin. Anak pondok biasa memanggilnya aba Sun. beliau datang untuk mengambil barang-barangku dan mengantarkan kami ke asrama tempat aku akan tinggal. Dalam hati aku merasa takut dan gugup sekali. Aku takut nanti banyak yang memusuhiku. Setelah beberapa menit kami berjalan, akhirnya sampailah kami di kamar yang dituju, yaitu kamar yang paling ujung di sebelah kanan.

Tok…tok..tok…, assalamu’alakum, ucap aba Sun sebelum memasuki kamar itu. Dari dalam kamar terdengar sahutan, “wa’alaikum salam”. Lalu orang yang di dalam kamar itu pun membukakan pintu untuk kami. “ mari, silahkan masuk,” ucap orang tersebut dengan suara yang ramah dan penuh kesopanan. Sebutlah namanya abang Yusran. Dia biasa dipanggil aba Yus. Ternyata di dalam kamar itu, aba Yus sedang menyapu lantai kamar yang penuh debu dan pasir, maklumlah sudah lama, semenjak liburan tidak di tempati. Karena ketika liburan, para santri akan pulang ke kampungnya masing-masing. Lalu Ayahkupun, menyuruh aku untuk menggantikan aba Yus. Dan kebetulan juga pada saat itu, aku santri baru yang pertama kali ada di kamar itu. Kemudian, aku pun meminta sapu yang dipegang oleh aba Yus, dan menggantikannya menyapu lantai kamar tersebut. Tak lama kemudian, datanglah salah seorang santri baru yang akan memempati kamar itu juga. Ia datang bersama dengan Ayahnya. Dia juga alumni dai MTs yang ada di kompleks Muhammadiyah ini, dan dia juga tinggal di asrama selama ia sekolah di MTs Muhammadiyah. Adi, tidak heran dia sudah kenal dengan Pembina dan asisten yang ada di pondok itu. Anak itu namanya Husain. Dia adalah anak yang sangat dimanjakan oleh orang tuanya, terutama Ayahnya. Sehingga apapun yang diinginkan oleh Husain, Ayahnya akan menurutinya.
Setelah beberapa lama kemudian, barulah datang semua santri baru yang lainnya. Mereka datang dari berbagai desa, dari berbagai kecamatan, bahkan ada yang berasal dari Luar Kabupaten Bima. Di kamar kami ada beberapa santri baru yang berasal dari desa yang berbeda-beda.

Tak terasa waktu berlalu, akhirnya waktu hampir mau masuk maghrib. Saya pun di suruh oleh Ayah saya untuk memasak masakan sebisa saya. Itu tidak menjadi masalah bagiku. Karena, waktu di rumahku di kampung, aku sering masak sendiri. Jadi dengan cepat aku pergi ke arah dapur yang ada di kamarku itu. Dan akupun memasakkan masakan khas buatanku sendiri. Setelah beberapa menit, akhirnya makanan buatanku jadi juga. Aku pun mengangkat masakanku, yang kelihatannya memang sudah matang dan siap untuk disantap. Seketika, masakan yang aku sajikan itu habis dilahap oleh orang-orang yang ada di kamarku itu. Serentak mereka bilang, " waduhhhh,,, enak sekali masakanmu, tpi masih ada yang kuran," kata mereka. "apa? garamnya kurang yah?", aku balik bertanya. Lalu ayahku menjawab : " kurang banyaaaaaakkkkkk." Serentak kami pun tertawa bersama-sama. Itulah hari pertama aku mengenal dan tinggal di lingkungan Muhammadiyah. Setelah selesai sholat Maghrib berjamaah, para orang tua dari santri baru pun, akhirnya pulang kembali ke kampungnya masing-masing, tidak terkecuali Ayahku. Hanya beberapa orang tua saja yang masih ingin bersama anak-anaknya.

Ketika Ayahku berpamitan padaku, aku sangat sedih sekali. Meskipun Ayahku jarang berkumpul bersama kami sekeluarga, tapi entah mengapa, aku seakan-akan sudah sering berkumpul bersama Ayah dan tidak ingin ia meninggalkan aku sendiri. Tetapi, apa dayaku. Demi cita-citaku, aku harus bisa merelakan kepergian ayahku. Aku hanya bisa melambaikan tangan ke arah Ayahku. “ Selamat jalan Ayah, hati-hati dan semoga selamat sampai rumah, ammmiiinnnn,” gumamku dalam hati sambil menghapus air mataku. Setelah beberapa menit kemudian, aku tidak melihat lagi Ayahku di sana.

Nah..... itulah kisahku teman2... tpi ini baru sebagian kecilnya saja... masih banyak kelanjutannya. tpi tuk hari ini cukup sampai di sini dulu yah kawan, Insaya Allah besok aku akan mengarangnya lagi untuk kalian, semoga bermanfaat yah, ammmmiiiinnnn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...