KISAH CINTA THE MIFKAR
Pendahuluan
Di sebuah Institusi Pendidikan, tersebutlah Sekolah
Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah Kota Bima, ada salah seorang siswa yang
berpenampilan sederhana dan berasal dari sebuah desa yang bernama Desa Kalampa.
Dia adalah seorang Siswa yang tidak pernah minder dengan keadaannya. Meskipun
dia berbeda dari temannya. Demi cita-citanya , ia terus bertekad dan berusaha
menjadi yang terbaik dari semua yang terbaik, sehingga dia mempunyai motto,
yaitu : “To be Excellent, I Must Can”. Itulah motto yang ia pegang selama ia
sekolah di SMA nya itu. Sampai-sampai mottonya itu ia tulis di pintu lemari
kecilnya yang ada di kamarnya di Ponpes Al-Ikhlas Muhammadiyah Tolobali-Kota
Bima (orang Bima bilang : peti). Siapakah dia??? Yaaa… zulfikar namanya.
Memang,,, nama yang agak kuno kalo dibandingkan nama-nama anak muda zaman
sekarang,,, Tpi… nama bukanlah cerminan dari pribadi seseorang,,, sperti kata
orang bijak :”jangan melihat buku dari sampulnya saja, tetapi lihatlah dari
isinya”. Hmmm bagaimana sih sosok seorang Zulfikar itu??? Ikuti aja cerita
pendek “Kisah Cinta The MifKar” ini.
Good
Luck…
1.
Pertama Mengenal Muhammadiyah.
Seperti
tahun-tahun sebelumnya, setelah menamatkan sekolah di jenjang Sekolah Menengah
Pertama (SMP), semua Siswa tamatan SMP sedang bersiap-siap berangkat ke Sekolah
Menengah Atas (SMA) favorit dan pilihannya, untuk mendaftarkan dirinya sebagai
calon Siswa SMA. Di antara mereka, ada yang diantar oleh orang tua mereka, ada
juga yang berangkat sendiri. Tidak ketinggalan aku yang baru saja menamatkan
studyku di SMP Negeri 2 Woha. Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Tapi,
meskipun dengan kondisi ekonomi keluarga yang seperti itu, aku tidak pernah
menyerah dan mundur untuk meraih cita-citanya. Siapakah aku??? Namaku adalah
Zulfikar,kalian boleh memanggilku Vikar. Aku adalah anak dari pasangan suami
istri (pasutri) Bapak Nurdin dan Ibu Nursani. Aku bercita-cita dari kecil, aku
ingin menjadi seseorang yang ahli dalam bidang Matematika, bila perlu aku ingin
menjadi profesornya Matematika. Maklum, dari kecil aku suka sekali pada mata
pelajaran yang satu ini.
Berbeda
dengan teman-temanku yang lain, yang bersekolah di SMA yang mereka inginkan. Aku
tidaklah demikian, aku ibaratkan Motor yang di kendarai oleh Ayahku. Di Sekolah
manapun Ayahku mendaftarkanku, aku menuruti saja apa yang dikehendaki Ayahku. Aku
tahu apa yang dipilih oleh Ayahku, adalah yang terbaik untukku. Dan aku juga
tidak berani menentang apa kata Ayahku.
Di
rumahku, aku bersiap-siap berangkat bersama Ayahku ke Sekolah, tempat aku akan
didaftarkan oleh Ayahku. Sebelum berangkat, aku berpamitan dengan orang-orang
sekampungku. Terutama My Mother (Ibuku). Terlihat air mata keluar dari pipi Ibuku,
maklumlah Wanita. Bukan karena itu juga, tetapi karena aku akan pergi dalam
waktu yang lama. Soalnya di sana aku akan tinggal di Ponpes yang ada di sekolah
itu. Dan juga karena aku merupakan anak laki-laki satu-satunya yang mereka
miliki.
Ibu : “ Nanti, kalo kamu sampai
di sekolahmu. Kamu jangan nakal, patuhi apa yang dikatakan oleh gurumu di sana,
jangan lupa sholat, dan jangan pernah ambil barang yang bukan milik kamu, anak
yahh…!!??”(sambil mengelus-elus badan Zulfikar)
Vikar : “ Iya, Bu. Insya Allah… Vikar akan selalu
ingat nasehat Ibu. Ibu juga harus baik-baik di sini yah. Ibu gak boleh mikirin
Vikar terus, nanti Ibu bias sakit. Ibu harus jaga kesehatan Ibu.”(sambil
menangis memeluk sang Ibu)
Ibu : “ Iya, Nak.”
Vikar : “ Ya, udah… sekarang Ibu jangan nangis
lagi. Vikar mau pergi dulu. Vikar pamit yah Bu…(sambil mencium tangan dan pipi
Ibunya)
Ibu :
“ Iya,,, Hati-hati yah…(sambil melepas pelukannya)
Vikar : “ Iya, Assalamualaikum, Bu…”(sambil
melambaikan tangan ke arah Ibunya dan berjalan meninggalkan Ibunya)
Ibu :
“ Wa’alaikum salam Warahmatullah.” (sambil melambaikan tangan)
Akhirnya
aku pun pergi bersama Ayahku ke Kota. Ketika naik di atas motor, aku menengok
ke belakang ke arah Ibuku. Aku melihat Ibuku masih menangis. Aku pun menengok
ke depan kembali, karena aku tidak tahan melihat Ibuku menangis. Di atas motor,
aku mencoba mengajak Ayahku berbicara. aku pun bertanya kepada Ayahku.
Vikar :
“Ayah,,, emangnya nanti Vikar akan sekolah di mana???”
Ayah : “ Kamu
akan ayah masukkan ke SMA Muhammadiyah.”
Vikar : “ SMA Muhammadiyah??? Sekolah apa itu, apa
sekolahnya sama seperti sekolah pada umumnya??”
Ayah : “ Sama, Nak. Tapi sekolah itu sangat ketat
dan akhlak serta pergaulannya bagus dibandingkan SMA-SMA pada umumnya, yang
pergaulannya bebas dan tidak bermoral.” Makanya, ayah ingin memasukkan kamu di
sana.”
Vikar : “
Ohh,,, Tapi Vikar takut kalo di sana Vikar gak akan dapat Teman yang baik, yang
mau berteman dengan Vikar apa adanya. Tanpa memandang status ekonomi Vikar.”
Ayah : “ Insya Allah, tidak Nak. Kamu anak baik,
pasti banyak yang suka dan ingin berteman dengan kamu.”
Vikar : “
Semoga saja ya, Ayah…” Ammiiinnnn.
Ayah : “
Amin.” Sekarang, pegangan yang erat, Ayah akan ngebut.”
Vikar : “
Hahahahaha, emang Ayah bias? Ayah kan sudah tua, mana berani ngebut.”
Ayah : “
Lihat saja nanti”
Benar saja, ternyata Ayahku membuktikan
ucapannya tadi. Ia tarik gasnya sampai full. Dan ketika aku lihat pengukur
kecepatannya, ternyata kecepatan Motor yang di kendarai oleh Ayahku adalah 100
Km/jam. Wahh… bukan main Ayahku mengendarai motor. Bagaikan Valentino Rossi yang
sedang ngebut, ingin melewati semua lawannya. Semua orang yang tadinya berada
di depan kami, satu persatu kami lewati. Ternyata, meskipun sudah tua, Ayahku
masih berjiwa muda juga rupanya, gumamku dalam hati. Aku salut dengan Ayahku,
meskipun ia sudah tua, ia tetap bersemangat untuk tetap menjalani kehidupannya
dan menyekolahkanku hingga sampai sekarang ini. Tapi, aku lebih kagum lagi
dengan Ibuku. Meskipun ia adalah isteri kedua dari Ayahku, dan Ayah juga jarang
menengok kami. Ibuku tetap sabar dan tabah mengurus kami sekeluarga. Dan bahkan
ia mencari uang untuk membiayaiku sekolah. Terima kasih Ibu, terima kasih Ayah.
Jasa-jasa kalian tidak akan pernah aku lupakan.
Karena lamanya perjalanan, aku
pun mataku pun ngantuk. Dan tanpa ku
sadari kepalaku sudah menyandah di punggung Ayahku. Aku peluk tubuh Ayahku
dengan erat. Dan ku rasakan angin membelai pipiku. Begitu nyaman ku rasakan.
Setelah kurang lebih satu jam
perjalanan, akhirnya tibalah kami di tempat yang kami tuju. Ketika kami masuk
di gapura sekolah itu, aku dibangunkan oleh ayahku. Ayah : “Vikar, bangun . kita sudah sampai,” (sambil menepuk-nepuk
bahuku)
Vikar : “
Oahhhh,,, kita di mana nih ayah??”
Ayah : “
Kita sudah sampai di SMA Muhammadiyah, tuh lihat ada tulisan di gapuranya
tuh.”(sambil menunjuk ke arah gapura yang dimaksud)
Akupun mendongak ke atas, ke arah
gapura yang dimaksud oleh Ayahku tadi, kalau nggak salah tulisannya itu,
“SELAMAT DATANG DI MTs, SMA, dan MA
Muhammadiyah Kota Bima, Jln. Wolter Monginsidi Tolobali-Bima NTB”. Begitulah
kira-kira tulisan yang ada di gapura tersebut. Lalu kamipun masuk lebih dalam
lagi. Hingga sampailah kami tepat di depan sekolah tersebut. Di sana terlihat
ada seseorang pegawai TU yang duduk di
depan ruangan kelas, dulu kelas itu di tempati oleh anak SMK Kesehatan untuk
belajar, soalnya SMK Kesehatan blum mempunyai bangunan sekolahnya sendiri. Nama
pegawai itu adalah Azhar Yusuf. Ketika aku melihatnya, di dalam hatiku aku
berkata, “ Ya Allah,,, ganteng sekali orang ini, dan kelihatannya baik. Semoga
saja aku bisa menjadi adiknya di sini.” Gumamku dalam hati. Abang Azhar adalah
salah satu pegawai TU yang ditugaskan oleh Kepala sekolah untuk menjadi
penerima siswa baru yang dating mendaftar di sekolah itu. Abang Azhar terkenal
sebagai orang yang ramah, lucu, meskipun postur tubuhnya tidak tinggi, aku
sangat senang kepadanya.
Vikar & Ayah :
“ Assalamu’alaikum…”(hampir bersamaan)
Azhar :
“ Wa’alaikum salam, silahkan duduk pak..,(smbil mempersilahkan kami duduk)
Ayah :
“ Terima kasih. Ayo Vikar duduk.”
Kamipun duduk di bangku yang sudah
disiapkan oleh panitia penerimaan siswa baru. Ayah pun berbincang-bincang
dengan Abang Azhar. Mereka membicarakan tntang biaya sekolah dan asrama yang
nantinya akan saya tinggali. Setelah semua masalah pembayaran selesai,
tiba-tiba datanglah seorang pegawai TU yang juga sebagai Pembina di Pondok itu.
Namanya Sunardin. Anak pondok biasa memanggilnya aba Sun. beliau datang untuk
mengambil barang-barangku dan mengantarkan kami ke asrama tempat aku akan
tinggal. Dalam hati aku merasa takut dan gugup sekali. Aku takut nanti banyak
yang memusuhiku. Setelah beberapa menit kami berjalan, akhirnya sampailah kami
di kamar yang dituju, yaitu kamar yang paling ujung di sebelah kanan.
Tok…tok..tok…, assalamu’alakum, ucap
aba Sun sebelum memasuki kamar itu. Dari dalam kamar terdengar sahutan,
“wa’alaikum salam”. Lalu orang yang di dalam kamar itu pun membukakan pintu
untuk kami. “ mari, silahkan masuk,” ucap orang tersebut dengan suara yang
ramah dan penuh kesopanan. Sebutlah namanya abang Yusran. Dia biasa dipanggil
aba Yus. Ternyata di dalam kamar itu, aba Yus sedang menyapu lantai kamar yang
penuh debu dan pasir, maklumlah sudah lama, semenjak liburan tidak di tempati.
Karena ketika liburan, para santri akan pulang ke kampungnya masing-masing.
Lalu Ayahkupun, menyuruh aku untuk menggantikan aba Yus. Dan kebetulan juga
pada saat itu, aku santri baru yang pertama kali ada di kamar itu. Kemudian,
aku pun meminta sapu yang dipegang oleh aba Yus, dan menggantikannya menyapu
lantai kamar tersebut. Tak lama kemudian, datanglah salah seorang santri baru
yang akan memempati kamar itu juga. Ia datang bersama dengan Ayahnya. Dia juga
alumni dai MTs yang ada di kompleks Muhammadiyah ini, dan dia juga tinggal di
asrama selama ia sekolah di MTs Muhammadiyah. Adi, tidak heran dia sudah kenal
dengan Pembina dan asisten yang ada di pondok itu. Anak itu namanya Husain. Dia
adalah anak yang sangat dimanjakan oleh orang tuanya, terutama Ayahnya.
Sehingga apapun yang diinginkan oleh Husain, Ayahnya akan menurutinya.
Setelah beberapa lama kemudian,
barulah datang semua santri baru yang lainnya. Mereka datang dari berbagai
desa, dari berbagai kecamatan, bahkan ada yang berasal dari Luar Kabupaten
Bima. Di kamar kami ada beberapa santri baru yang berasal dari desa yang
berbeda-beda.
Tak terasa waktu berlalu, akhirnya
waktu hampir mau masuk maghrib. Saya pun di suruh oleh Ayah saya untuk memasak masakan sebisa saya.
Itu tidak menjadi masalah bagiku. Karena, waktu di rumahku di kampung, aku
sering masak sendiri. Jadi dengan cepat aku pergi ke arah dapur yang ada di
kamarku itu. Dan akupun memasakkan masakan khas buatanku sendiri. Setelah
beberapa menit, akhirnya makanan buatanku jadi juga. Aku pun mengangkat
masakanku, yang kelihatannya memang sudah matang dan siap untuk disantap. Seketika,
masakan yang aku sajikan itu habis dilahap oleh orang-orang yang ada di kamarku
itu. Serentak mereka bilang, " waduhhhh,,, enak sekali masakanmu, tpi
masih ada yang kuran," kata mereka. "apa? garamnya kurang yah?",
aku balik bertanya. Lalu ayahku menjawab : " kurang
banyaaaaaakkkkkk." Serentak kami pun tertawa bersama-sama. Itulah hari
pertama aku mengenal dan tinggal di lingkungan Muhammadiyah. Setelah selesai
sholat Maghrib berjamaah, para orang tua dari santri baru pun, akhirnya pulang
kembali ke kampungnya masing-masing, tidak terkecuali Ayahku. Hanya beberapa
orang tua saja yang masih ingin bersama anak-anaknya.
Ketika Ayahku
berpamitan padaku, aku sangat sedih sekali. Meskipun Ayahku jarang berkumpul
bersama kami sekeluarga, tapi entah mengapa, aku seakan-akan sudah sering
berkumpul bersama Ayah dan tidak ingin ia meninggalkan aku sendiri. Tetapi, apa
dayaku. Demi cita-citaku, aku harus bisa merelakan kepergian ayahku. Aku hanya
bisa melambaikan tangan ke arah Ayahku. “ Selamat jalan Ayah, hati-hati dan
semoga selamat sampai rumah, ammmiiinnnn,” gumamku dalam hati sambil menghapus
air mataku. Setelah beberapa menit kemudian, aku tidak melihat lagi Ayahku di
sana.
Nah..... itulah kisahku teman2... tpi ini baru sebagian kecilnya saja... masih banyak kelanjutannya. tpi tuk hari ini cukup sampai di sini dulu yah kawan, Insaya Allah besok aku akan mengarangnya lagi untuk kalian, semoga bermanfaat yah, ammmmiiiinnnn
Tidak ada komentar:
Posting Komentar